Sunday, May 21, 2017

Donald Trump Kunjungi Timur Tengah, Ada Apa?

Ada apa di balik Kunjungan Trump ke sejumlah negara Timur Tengah? Hal ini kembali menjadi sorotan banyak pihak. Hal ini dikarenakan kunjungan tersebut dilakukan di tengah memanasnya suhu politik di AS usai pemecatan direktur FBI James Comey. Seperti pemberitaan sebelumnya di beberapa media, pemecatan Comey mengundang banyak pertanyaan. Hal ini disebabkan karena Comey dipecat di saat ia sedang melakukan penyelidikan atas dugaan penasihat senior Trump, Michael Flynn berkolusi dengan Rusia untuk mempengaruhi pilpres AS lalu.

Akibat kebijakan Trump tersebut, banyak pihak yang menilai Trump menjadi ancaman serius bagi dunia Internasional. Di bawah kepemimpinan Comey, penyelidikan FBI mengambil kesimpulan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin menyetujui semacam 'operasi luas' untuk mengarahkan pilpres AS tahun lalu, agar memenangkan Trump. Motif Trump memecat Comey menjadi pertanyaan besar. Kritikan langka datang dari kalangan politikus Partai Republik, yang menaungi Trump. Sedangkan kalangan Partai Demokrat mencurigai adanya upaya 'menutupi' terkait penyelidikan dugaan kolusi Flynn dengan Rusia.

Donald Trump Kunjungi Timur Tengah, Ada Apa?
Trump Berbincang dengan Raja Salman (Foto: Jonathan Ernst/Reuters)
Kritikan itu diberitakan oleh salah satu media ternama Jerman, Der Spiegel dalam lansiran Press TV, Sabtu (20/5/2017). Dalam editorial majalah tersebut disebutkan bahwa Trump tidak layak jadi presiden Amerika Serikat dan harus sesegera mungkin diberhentikan.

"Donald Trump tidak cocok menjadi presiden AS. Dia tidak memiliki intelektualitas yang dibutuhkan dan tidak memahami pentingnya jabatan yang dipegangnya maupun tugas-tugas yang terkait dengan itu," demikian salah satu potongan dalam editorial yang dimuat pada Jumat (19/5).

Baca juga: Donald Trump Dihadang Ancaman Pemakzulan

"Dia tidak membaca. Dia tidak repot-repot untuk membaca dengan teliti berkas-berkas penting dan laporan intelijen dan hanya sedikit mengetahui isu-isu yang telah disebutnya sebagai prioritasnya. Keputusannya berubah-ubah dan itu disampaikan dalam bentuk keputusan tirani," tulis Klaus Brinkbaumer.

Di tengah-tengah kisruh politik di negara Paman Sam itu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melakukan kunjungan kerja ke beberapa negara di Timur Tengah dan Eropa. Negara yang pertama dituju adalah Arab Saudi. Seperti yang dilansir Reuters, Minggu (21/5/2017), Trump dalam kunjungannya ini membuat kesepakatan bantuan militer dengan Kerajaan Arab Saudi. Trump memastikan kesepakatan senjata senilai 110 miliar dolar AS dengan Arab Saudi sekaligus menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat Arab Saudi. Menteri Luar Negeri AS, Rex Tillerson bahkan mengatakan, bantuan militer beserta komitmen investasi lainnya dengan Arab Saudi akan mencapai angka 350 miliar dolar AS.

"Investasi senilai ratusan miliar dollar kepada AS dan pekerjaan, pekerjaan, pekerjaan yang luar biasa. Saya sangat berterimakasih kepada masyarakat Saudi," ujar Trump. 

Trump dalam kunjungan tersebut memberikan pidato dengan tema 'harapan untuk visi damai Islam' di hadapan puluhan pemimpin Arab dan muslim termasuk Indonesia yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo. Salah satu bagian dalam sambutannya meminta negara-negara muslim untuk tidak melindungi para ekstremis dan menyerukan isolasi internasional terhadap Iran. Menurut Trump, Iran memicu konflik sektarian dan teror di Timur Tengah.

"Dari Libanon ke Irak ke Yaman, Iran mendanai, mempersenjatai dan melatih para teroris, milisi dan kelompok-kelompok ekstremis lainnya yang menyebarkan kehancuran dan kekacauan di seluruh wilayah," Ungkap Trump.

Baca juga: Fakta Dibalik Ketegangan Arab Saudi Dengan Qatar. Tanda Hari Kiamat?

"Inilah pemerintahan yang bicara secara terbuka mengenai pembunuhan massal, bersumpah untuk kehancuran Israel, kematian Amerika, dan kehancuran bagi banyak pemimpin dan negara-negara di ruangan ini," sebut Trump dalam pidatonya di Konferensi Islam Arab Amerika yang digelar di Riyadh itu.

"Sampai rezim Iran bersedia menjadi mitra untuk perdamaian, semua bangsa harus bekerja sama untuk mengisolasinya (Iran), dan berdoa untuk hari ketika rakyat Iran memiliki pemerintahan yang adil dan benar yang sangat layak mereka dapatkan," imbuh Trump seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (22/5/2017).

Setelah berkunjung ke Arab Saudi, Trump juga akan mengunjungi Israel, Palestina, Belgia, Vatikan, dan Sisilia di Italia.

Load disqus comments

0 komentar